Selasa, 03 November 2009
Teropong Kegagalan Pembangunan Selayar
Secara obyektif harus diakui bahwa dalam periode kepemimpinan Drs. H. Syahrir Wahab, MM, Kabupaten Kepulauan Selayar begitu banyak mengalami perubahan. Disana-sini terlihat beragam kemajuan pembangunan.
Bangunan jalan rabat beton, aspal hotmix dan pembangunan pisik lain pun bertebaran bak jamur di hampir seluruh pelosok desa di daerah ini.
Bahkan image kawasan pesisir pantai sebagai wc terpanjang di dunia pun perlahan dapat ditebas dengan bertebarannya bangunan MCK yang dibangun dari kepekaan Pemkab Kepulauan Selayar terhadap fenomena sosial di masyarakat.
Akan tetapi, di satu sisi berbeda terpampang pula sederetan kegagalan pembangunan. Khususnya pada sektor dunia pendidikan, kesehatan, pertanian dan peningkatan infrastruktur jalan.
Di mana hampir pada setiap kecamatan tim panoramaselayar.blogspot.com mendapati bangunan perumahan guru, bujang sekolah, kepala sekolah sampai perumahan puskesmas yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Kondisi yang tak kalah memiriskan juga terlihat pada bangunan Balai Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan-Perkebunan dan Kehutanan di Kelurahan Batangmata, Kecamatan Bontomate’ne.
Selain itu, dari hasil penelusurannya tim panorama selayar juga masih mendapati beberapa ruas jalan perkampungan yang nyaris sama sekali tak pernah tersentuh perhatian pemerintah kabupaten.
Beberapa diantaranya adalah : ruas jalan Desa Kayu Bau, Dusun Pa’batteang, Desa Lalang Bata, Kecamatan Buki. Ruas jalan Kampung Bontoiya, Dusun Tanete Pale, Desa Lalang Bata dan ruas jalan Dusun Nangkala menuju ex. Kampung Punra’ yang merupakan daerah sentra pertanian jambu mente.
Minimnya perhatian pemerintah pada upaya peningkatan infrastruktur kemasyarakatan juga sangat nampak jelas terlihat pada kondisi sejumlah bangunan jembatan di daerah ini, antara lain di Jembatan Dusun Lebo Kohala-Sappang yang hingga kini tetap dilalui tanpa besi pengaman dengan mengabaikan tingginya resiko kecelakaan pengendara yang akan melintasi jalur tersebut, utamanya pada malam hari.
Begitu pula halnya, jembatan kayu yang sampai saat ini masih mewarnai jalan poros pelabuhan ferry Pattumbukang.
Pada sektor wisata sejarah & budaya, Pemkab Kepulauan Selayar lagi-lagi memperlihatkan kegagalannya. Terbukti, sejumlah situs bangunan peninggalan sejarah dan puluhan titik sebaran pekuburan tua di daerah penghasil jeruk manis tersebut dibiarkan dalam kondisi yang tidak terawat dan terkesan diabaikan.
Sebut saja, bangunan peninggalan Belanda di Desa Buki, Kecamatan Buki, situs pekuburan tua Dusun Bontodatara, Pojok dan Poros Bontonasaluk. (Tim penelusur)
Senin, 12 Oktober 2009
Langganan:
Komentar (Atom)